Kepala Pusat Studi Intelijen Keamanan

Komisaris Jenderal Polisi
Dr. Achmad Kartiko, S.I.K., M.H.

Komjen Pol. Dr. Achmad Kartiko, S.I.K., M.H. lahir di Jakarta pada 20 Maret 1968. Beliau merupakan sosok perwira tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dikenal memiliki kombinasi langka antara ketajaman operasional di lapangan dan kedalaman pemikiran akademis. Perjalanan pengabdiannya dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri)—yang kini dikenal sebagai Akademi Kepolisian (Akpol)—pada tahun 1991.

Sebagai seorang pembelajar sejati, perjalanan karier

Achmad Kartiko senantiasa beriringan dengan pengembangan kapasitas intelektual. Di dalam negeri, beliau merupakan lulusan PTIK tahun 2001, SESPIMTI tahun 2014, hingga berhasil meraih gelar Doktor (S3) dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia. Cakrawala berpikirnya kian luas melalui berbagai pendidikan internasional, mulai dari International Law Enforcement Academy(ILEA) di Bangkok dan Rosswell, hingga pendalaman strategi Maritime Security di Naval Post Graduate School, Monterey, Amerika Serikat.

Karier kepolisiannya banyak ditempa di bidang reserse dan intelijen. Pengalaman kepemimpinan kewilayahannya teruji saat beliau menjabat sebagai Kapolres Indragiri Hilir (2009) dan Kapolres Bengkalis (2010) di Riau. Dedikasinya yang tinggi membawanya ke pusat pusaran organisasi sebagai Sekretaris Pribadi Kapolri pada tahun 2012, sebelum kemudian dipercaya memimpin Polres Metro Depok di tahun yang sama.

Kepakaran Achmad Kartiko di bidang intelijen semakin matang saat beliau dipercaya menjabat sebagai Direktur Intelijen dan Keamanan (Dirintelkam) Polda Jawa Timur pada 2015, yang kemudian berlanjut ke markas besar sebagai Kabidkerma Baintelkam Polri (2016) dan Karo Analis Baintelkam Polri (2020). Kemampuannya dalam manajerial dan diplomasi antar-lembaga juga terpotret jelas saat beliau ditugaskan di luar struktur Polri, yakni sebagai Deputi Bidang Penempatan dan Pelindungan Kawasan Eropa dan Timur Tengah di BP2MI (2021), bahkan sempat mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris Utama (Sestama) di lembaga tersebut.

Puncak pengabdiannya di wilayah ditandai dengan jabatan sebagai Kapolda Aceh pada tahun 2023. Memasuki fase akhir pengabdiannya, beliau kembali ke institusi pendidikan yang membesarkannya dengan menjabat sebagai Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri pada Oktober 2025. Karier gemilangnya mencapai puncaknya saat beliau dilantik menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri pada tahun 2026, yang bertanggung jawab penuh dalam mencetak generasi penerus Polri yang profesional dan berintegritas.

Di balik seragam kepolisiannya, Dr. Ade Mulya, M.Si. adalah sosok perwira menengah Polri yang mendedikasikan hidupnya pada persimpangan antara tugas lapangan dan kedalaman akademis. Memiliki latar belakang yang kuat dalam Studi Intelijen Strategis (KSI XI UI), Dr. Ade merupakan alumnus Program Pascasarjana Universitas Indonesia (kini SKSG UI/Pembangunan Berkelanjutan). Hasratnya pada ilmu pengetahuan membawanya meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) Angkatan VI.

Jejak Internasional dan Pemikiran Global Wawasan globalnya ditempa melalui serangkaian pelatihan dalam dan luar negeri. Ia tercatat pernah mendalami kursus Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) dalam beberapa bacth berbeda, Kontra Proliferasi dari US Department of Homeland Security serta teknik penegakan hukum anti-terorisme di International Law Enforcement Academy (ILEA) Bangkok, Thailand. Pengalaman internasionalnya kian lengkap melalui Strategic Study Program di Inggris, di mana ia menyelami dinamika pemolisian komunitas dan perdamaian di Universitas Coventry, serta melakukan kunjungan campus tour di beberapa kampus di UK.

Pilar Intelektual Kepolisian Sebagai seorang akademisi praktisi, dengan memperkuat ekosistem pemikiran kepolisian di Indonesia. Beliau merupakan pengurus di Pusat Studi Intelijen Keamanan (PSIK-STIK), sebuah wadah pemikir yang fokus pada modernisasi intelijen. Kontribusinya juga nyata melalui keanggotaan di DIKPI (Perkumpulan Doktor Ilmu Kepolisian) dan Dabraka (Perhimpunan Intelektual Kepolisian Dalam dan Luar Negeri)—dua organisasi yang menjadi jembatan bagi para polisi pemikir intelektual.

Karya dan Kontribusi Literasi sebagai penulis produktif yang telah menelurkan berbagai artikel ilmiah dan buku bertema krusial, mulai dari analisis politik identitas dalam Pemilu (co-author), kepolisian prediktif, hingga transformasi teknologi. Dua karya terbarunya yang menjadi rujukan penting adalah buku “Policing Reform: Critical Policing Studies” dan “Intelijen 5.0 dan Tantangan Keamanan” serta buku “Manifesto Intelijen Keamanan”. Pada narasinya, ia sering menekankan teori Actor-Network Theory (ANT), sebuah konsep modern yang melihat bahwa dalam intelijen, manusia dan teknologi (AI/Big Data) adalah satu ekosistem yang tak terpisahkan.

Filosofi Hidup: Menjaga Rahasia, Mengantisipasi Masa Depan dengan memegang teguh motto: “Belajar dari Masa Lalu, Mengelola Hari Ini, dan Mengantisipasi Hari Esok.” Baginya, tugas intelijen adalah sebuah seni menavigasi waktu untuk menjaga ketertiban umum. Meski berwawasan terbuka, ia tetap menjunjung tinggi kode etik profesinya: “Apa yang Anda lihat, dengar, dan rasakan di sini, biarkan tetap di sini.”

Melalui dedikasinya, Dr. Ade Mulya membuktikan bahwa polisi masa kini bukan sekadar penjaga keamanan, melainkan sistem pengetahuan kolektif yang siap membawa Indonesia menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian dengan cara yang cerdas, humanis, dan demokratis.